Supermom aza dech!!!

Kebanggaan menjadi seorang Ibu bagi 3 malaikat kecilku....

Dari Ibu, oleh Ibu, dan untuk Ibu

Pernah suatu kali aku membaca event lomba yang bertemakan tentang pengalaman yang tak terlupakan bersama Bunda. Aku tertarik banget ikutan lombanya, tapi setelah ngubek-ngubek memori di otak, tak satu file pun kudapatkan. Sedih pun tak terelakkan ketika event tersebut tak dapat aku ikuti. Bukan, bukan karena aku menginginkan hadiah-hadiah yang ditawarkan, namun pikiranku menjelajah ke beberapa tahun silam. Aku adalah anak yang selalu merindukan sapaan hangat dari ibuku kala pulang sekolah, aku selalu memimpikan belaian sayang ibuku tatkala mataku terlelap menuju alam mimpi. Dan aku adalah anak dengan ibu yang memiliki sedikit waktu untuk mendengarkan kisah-kisah sederhana yang mengalir dalam lisan mungilku. Tapi, semua tak aku dapatkan di masa kecilku. Ibuku terlalu sibuk untuk memenuhi asa dan keinginan mulukku itu. Mulukkah itu? Yah, setidaknya itulah yang ada di pikiranku saat itu. Pikiran yang kemudian tetap segar dalam ingatanku yang menghantarkanku untuk memilih berkarier di keluargaku walau beberapa orang menyayangkan prestasi akademikku. Pikiran yang telah membuat sejuta trauma kepadaku akan rasa sepi yang mendalam. Dan pikiran yang tak ingin aku bagi-bagikan pada anak-anakku.

Ayahku hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat lurus. Kenapa aku bilang lurus? Aku membandingkan keadaanku dengan keadaan seorang teman yang mempunyai seorang bapak yang berprofesi yang sama dengan ayahku. Namun, kehidupannya jauh lebih berada dibanding dengan kehidupanku. Padahal, ayahku bukan pegawai rendahan, dia menjabat sebagai pimpinan proyek dan dapat meraih golongan yang cukup tinggi di usianya yang terbilang muda. Tak seperti teman lainnya yang bisa diantar jemput ke sekolah dengan mobil yang mewah, ayah masih setia ke kantor dengan motor bututnya yakni CB 100 yang dengan itu jugalah aku harus bersyukur dapat bersekolah dengan diantar jemput bersama motor yang sering mogok itu.

Sudah bisa dibayangkan gimana kondisi keuangan keluargaku kalau hanya bertahan pada gaji Ayah untuk memenuhi kebutuhan aku dan keempat adikku, tak seperti gaji PNS dewasa ini yang ada penambahan tunjangan daerah dan sebagainya. Bukan tak mensyukuri nikmat namun kebutuhan lebih besar daripada pemasukan. Mungkin untuk masalah perut bisa disetting pas-pasan, namun untuk urusan biaya pendidikan yang tinggi, ibukulah yang berinisiatif membantu tugas ayah dalam memenuhinya. Ibu memang selalu berambisi untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Karena ibu berprinsip pendidikan bisa mengubah dunia.

Untuk membantu perekonomian keluarga, ibu kemudian memilih berjualan dengan alasan tetap dapat mengurus rumah tangga dan anak-anaknya disela-sela kesibukannya berdagang. Walau ibu punya potensi dan kesempatan untuk berkarier di kantor seperti yang dilakukan wanita dewasa ini. Dengan alasan fleksibilitas dalam waktu, ibu memilih berjualan door to door daripada berjualan di sebuah toko. Ibu berjualan bahan baju dan baju-baju muslim ke beberapa teman dekatnya. Namun, seiring dengan bertambahnya relasi ibu, ibu kemudian berjualan apa saja sesuai pesanan dari teman-teman baru dan lamanya. Agaknya tak terlalu susah bagi ibu untuk menambah relasinya, ibu yang sangat mudah bergaul dengan siapa saja juga dididik dan tumbuh dalam keluarga yang pedagang, nenek dan nenek buyutku adalah seorang pedagang. Pelan tapi pasti usaha jualan ibu menanjak membuahkan hasil. Ibu bisa membelikan sebuah mobil keluarga agar ayah tak kehujanan lagi ke kantor dan agar kami dapat pergi bersilaturrahmi ke rumah saudara tanpa berdesak-desakkan lagi di atas sebuah motor super sederhana.

Keberhasilan yang dicapai ibu tak sebanding dengan keberhasilan tumbuh kembang kami anak-anaknya. Walaupun secara materi aku dan adik-adikku tak kekurangan sesuatu apapun dan segala keinginan kami terpenuhi apalagi jika keinginan tersebut berhubungan dengan pendidikan, ibu selalu cepat mengucurkan dananya. Tapi, secara emosi, kami labil. Contohnya aku yang selalu merasa ibu tak mencintaiku seperti ibu-ibu yang lain yang aku kenal. Niat ibu yang semula memilih berjualan demi fleksibilitas dalam mengurus rumah tangga dan mendidik kami ternyata tak sejalan dengan kenyataannya. Karena urusan dagangnya, ibu jadi jarang berada di rumah pada siang hari, tak jarang ibu pulang malam ketika kami akan beranjak ke tidur. Urusan rumah tangga pun ibu delegasikan kepada asisten rumah tangganya. Cengkrama dan canda tawa menjadi hal yang langka di keluarga kami. Tak heran perbedaan pandangan dan perdebatan terjadi di antara aku dan adik-adikku.

Rasa sepi dan emosi yang labil mengarahkanku pada pendalaman bagi pemahaman agamaku. Yang kemudian membawaku akan keputusan untuk menikah di ‘usia muda’. Yah, menikah setelah tamat SMA memang dipandang sebagai pernikahan dini bagi sebagian besar masyarakat sekarang. Perkuliahan aku selesaikan dengan baik dengan statusku yang sudah menikah dan ibu rumah tangga. Dengan menyandang ijazah sarjanaku di dukungan prestasi akademik yang memuaskan dan cukup membuktikan ke masyarakat bahwa menikah bukanlah hambatan untuk berprestasi, aku pun mendaftar ke sana kemari mencari pekerjaan seperti yang lazim dilakukan oleh mahasiswa yang baru tamat kuliah. Tiba-tiba, ibu melarangku untuk mengakhiri statusku yang kini tercatat di kartu kuning pencari kerja dari dinas tenaga kerja sebagai pengangguran intelektual. Aku pun terkejut dengan pernyataan ibu yang mengatakan bahwa langkah yang aku ambil kurang tepat, ibu menyayangkan jika cucu-cucunya besar bukan di tanganku apabila aku bekerja dan berkarier di luar rumah, dari wajah ibu mengisyaratkan bahwa ibu menyesal telah melewatkan masa kecil kami karena kesibukan ibu dalam membantu perekonomian keluarga. Sepertinya ibu tak mau jika cucu-cucunya bernasib sama dengan anak-anaknya.

Walau ibu tak berjiwa pujangga yang bisa merangkai kata nan indah kepada anak-anaknya, di balik sikapnya yang acuh ternyata ibu punya jiwa selembut sutera. Di balik kesibukkannya dan hampir tak pernah bertanya tentang perasaan kami ternyata ibu mencintaiku dan adik-adikku. Benar adanya bahwa tak ada ibu yang tak mencintai buah hatinya. Ibuku demikian, walau aku telat menyadarinya. Ternyata cinta ibu pada kami bukanlah cinta biasa, ibu mencintai kami dengan cara yang berbeda. Aku pun mengikuti arahan dan bimbingan dari ibu dengan suka cita, ku ikhlaskan diriku untuk berkarier di rumah tangga karena Allah, Tuhan Yang Maha Sempurna. Dan semua aku lakukan dari ibu, oleh ibu, dan untuk ibu. Semoga apa yang aku lakukan di rumah tanggaku menambah derajat kemuliaannya di hadapan Allah. Amin.



Become a Great Mother...dudududu

Terinspirasi dari film The Cheaper By Dozen..gue jadi pengen punya anak buanyak yang kebetulan sama dengan sabda Nabi besar kita Muhammad SAW. Di film itu dikisahkan orangtua yang mampu mengurus anak-anaknya yang berjumlah 12 orang tanpa ada bantuan orang lain ( baby sister atau pembantu-red ). Karena gue kagum sama cerita dan para pemainnya yang watak, film itu pun gue tonton berulang-ulang. Efek sampingnya tekad gue makin kuat ikut program KB ( Keluarga Besar-red ). Apalagi gue emang senang banget dengan suasana rumah yang penuh keramaian ( mungkin karena gue dah terbiasa punya adik banyak ya..). Dua tahun pernikahan, gue baru dikasih momongan. Masih seperti Mommy yang ada di film itu, Seyogyanya jadi seorang istri enak banget gak ribet..duduk manis mengurus anak dan rumah tangga, tinggal nunggu setoran dari suami hehehe, kalau pengen apa-apa tinggal minta suami aja ( minta doang, belinya entar hihihi..sorry say..just kidding ). Tapi ternyata ngurus 3 baby yang jarak umurnya berdekatan repotnya minta ampyuuu..un.

Boro-boro punya anak selusin bo' baru 3 aja gue keter. Gue butuh SOS so nyokap gue bolak-balik terbang Medan-Palangka Raya. Karena gue semaput, nyokap gue menjelma jadi super nanny. Kasihan sih bokap gue sering ditinggal sendiri karena nyokap gue sekap selama berminggu-minggu di rumah ( Maafkan anakmu yang imyuut ini ya Pa...hiks..hiks). Emang dasar gue yang dodol ya masa' film mau gue ikuti ck..ck..ck..Tapi Ibu-ibu tetangga yang gak tau passion gue bilang " Enak bo' capeknya sekalian entar kalau anak dah gede nyantai ". Batin gue sih "iya emang kalau gak keburu dapat baby satu lagi" hehehe ( Glek..!! Sadar dev..). Padahal mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi kerjaan seabrek pada ngantri, mungkin kalau ni badan mesin buatan manusia dah lama hang akibat dipaksa kerja yang overload gitu. Tapi dibalik kepontang-pantingan gue mengasuh anak-anak banyak kejadian-kejadian lucu yang gue alami sehari-hari yang cukup menghibur gue di sela-sela Schedule gue yang padat hihihi ( artis kalee !!).

Gara-gara mati lampu...

Seperti biasa di tengah bulan, petugas pencatat meteran listrik datang ke rumah untuk mencatat beban pemakaian listrik bulan ini. Biasanya kita sering gak tahu kapan waktu petugasnya datang. Kan petugasnya cuma mencatat, menempelkan secarik kertas bukti pemakaian, trus pergi ke tempat yang lain. Tapi kali ini kebetulan anak-anak gue lagi pada main di teras rumah. Melihat orang yang gak dikenal datang ke arah rumah gue, Azkiya n Icha nanya "Siapa itu Mi?" ya..gue jawab "Ooo..itu petugas dari PLN"...Ehh..tiba-tiba anak-anak gue pasang muka sinis ngeliat si Bapak petugas, dan bisik-bisik (tapi kedengaran jelas suara bisik-bisiknya). Gue yang berada agak jauh dari mereka aja bisa dengar.
" Wah..Bapak ini yang sering matikan lampu (listrik-red) rumah kita, Mbak!" kata Icha.
" Iya..Cha..Bapak ini orang jahat ya.." Jawab Azkiya.
Si Bapak juga mendengar bisik-bisiknya Azkiya n Icha, buktinya si Bapak senyum-senyum dan langsung pergi tanpa berkata apapun. Mungkin dalam hatinya "Sabar..sabar..orang sabar disayang Tuhan ya..". Gue yang ada disitu keki berat dan langsung minta maaf. Trus gue jelasi deh ke anak-anak kalau yang matikan listrik itu bukan Bapak itu tapi PLN karena kita harus gantian pake listriknya, makanya anak-anak harus hemat listrik supaya listrik rumah kita gak
sering mati-mati lagi (mirip yang iklannya Lidya Kandau itu, hehehe..).

Takut Banjir (2) ....

Selain takut hujan, mereka juga suka teriak - teriak kalau liat ada orang yang buang sampah sembarangan. Tapi, teriaknya bukan ke orang tersebut, misal : " Bang - Bang, sampahnya buang di tempatnya dong " Bukan, tapi teriak - teriaknya ke gue " Umi..Umi..lihat tuh ada orang yang buang sampah sembarangan " trus gue harus apa dong ?
Benar... anak gue maksain gue untuk mungut tuh sampah dan nyuruh gue untuk naruh ke tong sampah..Gubrak..kalau gue gak mau eh mereka nangis dan teriak " Umi..nanti bisa banjir " Plis deh masa' gue alih profesi sih jadi pemungut sampah ..mending kalau sampahnya bisa dijual hihihi..ini sampah bungkusan makanan..Duhh..kenapa orang - orang belum sadar juga untuk membuang sampah pada tempatnya padahal peringatan alam sudah terjadi dan pemerintah sudah menyediakan tong - tong sampah di jalan dan TPS yang sudah tersebar. Anak - anak gue aja semangat banget kalau gue suruh buang sampah di tong itu dan menggoyang - goyangkan tongnya layaknya ayunan hahaha. Kalau gue ikuti kemauan anak gue bisa - bisa seharian gue cuma ngutipin sampah doang, anak - anak gue justru gak keurusan kan. Ya gue bilang aja supaya kita mendo'akn orang - orang itu agar mereka sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan. Yang penting kita mulai dari diri kita sendiri..Siiip deh !

Takut Banjir (?)

Dampak dari udah bisanya Azkiya&Icha membaca di usia TK, mulut gue jadi keriting akibat banyak menjawab pertanyaan kritis mereka dan otak gue harus dibiasakan loading cepat untuk memilah-milih kata yang tepat untuk menjawab. Yang namanya emak-emak dengan kerja seabrek ( dan gak kelar-kelar ), gue kecolongan juga. Pas lagi libur sekolahnya, gak biasa-biasanya suasana di rumah gue adem ayem kayak pagi ini. Gue curiga, gue intip mereka..Oooh..lagi baca koran..baguss..untuk up date informasi..Gue lanjut kerja..trus otak gue baru connect..What's..koran ?? Berita apa gerang yang dibaca, yang gue tahu kan koran = berita politik, ekonomi, kriminal ?? Oh no anak-anak gue belum cukup umur. Cepat-cepat gue ke ruang tamu tempat mereka bermain dan bereksperimen dengan semua barang yang ada di rumah.
Belum sempat gue ambil tuh koran, Azkiya & Icha sudah bosan membacanya dan mereka mulai berdiskusi.
"Cha..kalau hujan gak berhenti-berhenti bisa banjir lho.."
"Iya.. Mbak.."
"Trus kalau banyak sampah berserakan juga bisa banjir lho.."
"Iya..Mbak..ngeri ya bisa tenggelam nanti"
"Iya..makanya Azkiya dan Icha gak boleh buang sampah sembarangan ya.." sambung gue.
"Iya Mi..kalau buang sampah di tempat sampah kan Mi??"
"Pinter.."
Gue lega, mereka hanya membaca tentang banjir yang lagi terjadi di Ibukota. Tapi, setelah kejadian itu, gue jadi stress banget dengan tingkah mereka terutama Azkiya..Bayangin deh setiap kali hujan terjadi Azkiya nangis ketakutan dan setiap 5 detik sekali nanya ke gue : "Mi..hujannya kapan berhenti..Azkiya takut banjir.." Gue sudah menenangkan mereka dan menyuruh mereka berdoa pada Allah agar banjir tidak terjadi. Belakangan ini kan memang sering terjadi hujan lebat dengan angin kencang dan petir yang menakutkan. Gue sendiri juga takut apalagi gue dengar-dengar banyak pohon tumbang dan rumah rusak karena hujan badai tersebut. Gue yang emang penakut dari sononya plus sikap panik gue yang over dosis pasti semakin horor dong dengan tingkah 2 putri gue yang menambah suasana makin mencekam. Belum lagi si bayi Mumtaz yang jadi rewel melihat tingkah kakak-kakaknya yang mewek gitu. Akhirnya suami gue turun tangan juga melihat keadaan istri dan anak-anaknya yang mulai mengkhawatirkan hehehe. Suami gue mulai ceramah dan menjelaskan ke anak-anak gue kalau hujan itu adalah Rahmat Allah yang diturunkan Allah karena Allah sayang sama kita. Coba kalau gak hujan-hujan ?? semua tanaman akan kekeringan dan mati.
"Oooo..gitu ya Bi..Rahmat Allah itu apa Bi? Kok sama kayak nama Abi?"
Ya..ya..pertanyaan itu menandakan mereka sudah gak mewek lagi.

Pindahan (Lagi) ......

Sebagai seorang yang berdedikasi tinggi ( ehem..ehem ), suami gue ikhlas mengemban tugas dan amanat dari perusahaannya. Dan gue sebagai istri yang disayang suami hihihi..selalu mengikuti suami gue yang hidup nomaden alias berpindah - pindah dari satu propinsi ke propinsi lain demi tugasnya. Walau gue gak hidup menetap dan gak bercocok tanam ( jadi inget zaman batu ) gue merasa enjoy banget bisa keliling Indonesia, so gue bisa langsung berinteraksi dengan beragam corak budaya, bahasa dan masyarakat setempat. Anak - anak gue juga gitu. Buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya kan..Bahkan anak - anak gue lebih mencintai kota tempat tinggalnya sekarang dibanding dengan kampung halamannya. Bukannya kacang lupa kulitnya, menurut gue ini karena masyarakat setempatnya yang dengan tangan terbuka menerima kami dengan baik sehingga membuat penduduk pendatang seperti anak - anak gue merasa nyaman dan betah, ya gak..( bener ya lirik lagunya Trio Kwek - Kwek, Sing : Indonesia negeri ku, orangnya lucu -lucu, Indonesia tercinta orangnya ramah - ramah, gemah ripah loh jinawi ). Seperti waktu itu, suami gue akan dipindahkan ke Banjarmasin, gue bilang ke anak - anak kalau kita akan pindah, eh..mereka ogah. Azkiya dan Icha bilang gak mau, Mumtaz bilang Oeek..maksudnya " Umi..Mumtaz mau mimik " ( Eh gak nyambung ya???). Gue tanya kenapa, mereka jawab " Azkiya dan Icha sudah lengket sama Palangka Raya " hihihi..lem kali ya lengket. Gue sama suami pun berpikir keras untuk membujuk mereka supaya mau pindah dengan senang hati kayak gue. Akhirnya mereka mau pindah dengan satu syarat. " Ya udah..kita mau pindah tapi kita harus bawa rumah yang ini ya Mi..". Hahaha anak - anak gue nyangkanya kalau kami ada hubungan saudara dengan keong kali ya..Demi anak, gue bela - belain deh angkat nih rumah..( gue bercanda ding !)..trus gue njelasin kalau kita manusia gak bisa mindahin rumah. Tapi kita akan punya rumah baru ( rumah kontrakan baru maksudnya ) di Banjarmasin.

Kapan pandai ??

Di suatu siang di hari libur, seperti biasanya, suamiku menyalurkan hobi dan bakatnya dengan memencet - mencet keyboard laptopnya, tentu saja dengan dahi sedikit berkerut. Kadang sambil membuka - buka buku IT yang baru dibelinya. Seperti biasa juga di siang hari libur, Azkiya dan Icha menyempatkan diri mereka untuk 'bermesra - mesraan' dengan Abinya. Usai mendengarkan celoteh lucu dan cerita - cerita mereka, suami ku pun pamit pada anak - anak untuk melanjutkan kerjaannya.
" Udah dulu ya..Sayang..Abi mau belajar sekarang.. Anak - anak tidur siang ya ?"
Biasanya mereka menjawa serempak iya Bi..Tapi belajarnya cepat ya biar bisa main sama Abi lagi. Namun kali ini Azkiya menyeletuk dengan lugu :
" Abi kok belajar trus ? Kapan pandainya ?"
Spontan Kami tertawa geli karenanya dan menjelaskan bahwa kita memang harus belajar sepanjang hidup kita.

Pengikut


ShoutMix chat widget
free counters