Supermom aza dech!!!

Kebanggaan menjadi seorang Ibu bagi 3 malaikat kecilku....

Dari Ibu, oleh Ibu, dan untuk Ibu

Pernah suatu kali aku membaca event lomba yang bertemakan tentang pengalaman yang tak terlupakan bersama Bunda. Aku tertarik banget ikutan lombanya, tapi setelah ngubek-ngubek memori di otak, tak satu file pun kudapatkan. Sedih pun tak terelakkan ketika event tersebut tak dapat aku ikuti. Bukan, bukan karena aku menginginkan hadiah-hadiah yang ditawarkan, namun pikiranku menjelajah ke beberapa tahun silam. Aku adalah anak yang selalu merindukan sapaan hangat dari ibuku kala pulang sekolah, aku selalu memimpikan belaian sayang ibuku tatkala mataku terlelap menuju alam mimpi. Dan aku adalah anak dengan ibu yang memiliki sedikit waktu untuk mendengarkan kisah-kisah sederhana yang mengalir dalam lisan mungilku. Tapi, semua tak aku dapatkan di masa kecilku. Ibuku terlalu sibuk untuk memenuhi asa dan keinginan mulukku itu. Mulukkah itu? Yah, setidaknya itulah yang ada di pikiranku saat itu. Pikiran yang kemudian tetap segar dalam ingatanku yang menghantarkanku untuk memilih berkarier di keluargaku walau beberapa orang menyayangkan prestasi akademikku. Pikiran yang telah membuat sejuta trauma kepadaku akan rasa sepi yang mendalam. Dan pikiran yang tak ingin aku bagi-bagikan pada anak-anakku.

Ayahku hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat lurus. Kenapa aku bilang lurus? Aku membandingkan keadaanku dengan keadaan seorang teman yang mempunyai seorang bapak yang berprofesi yang sama dengan ayahku. Namun, kehidupannya jauh lebih berada dibanding dengan kehidupanku. Padahal, ayahku bukan pegawai rendahan, dia menjabat sebagai pimpinan proyek dan dapat meraih golongan yang cukup tinggi di usianya yang terbilang muda. Tak seperti teman lainnya yang bisa diantar jemput ke sekolah dengan mobil yang mewah, ayah masih setia ke kantor dengan motor bututnya yakni CB 100 yang dengan itu jugalah aku harus bersyukur dapat bersekolah dengan diantar jemput bersama motor yang sering mogok itu.

Sudah bisa dibayangkan gimana kondisi keuangan keluargaku kalau hanya bertahan pada gaji Ayah untuk memenuhi kebutuhan aku dan keempat adikku, tak seperti gaji PNS dewasa ini yang ada penambahan tunjangan daerah dan sebagainya. Bukan tak mensyukuri nikmat namun kebutuhan lebih besar daripada pemasukan. Mungkin untuk masalah perut bisa disetting pas-pasan, namun untuk urusan biaya pendidikan yang tinggi, ibukulah yang berinisiatif membantu tugas ayah dalam memenuhinya. Ibu memang selalu berambisi untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Karena ibu berprinsip pendidikan bisa mengubah dunia.

Untuk membantu perekonomian keluarga, ibu kemudian memilih berjualan dengan alasan tetap dapat mengurus rumah tangga dan anak-anaknya disela-sela kesibukannya berdagang. Walau ibu punya potensi dan kesempatan untuk berkarier di kantor seperti yang dilakukan wanita dewasa ini. Dengan alasan fleksibilitas dalam waktu, ibu memilih berjualan door to door daripada berjualan di sebuah toko. Ibu berjualan bahan baju dan baju-baju muslim ke beberapa teman dekatnya. Namun, seiring dengan bertambahnya relasi ibu, ibu kemudian berjualan apa saja sesuai pesanan dari teman-teman baru dan lamanya. Agaknya tak terlalu susah bagi ibu untuk menambah relasinya, ibu yang sangat mudah bergaul dengan siapa saja juga dididik dan tumbuh dalam keluarga yang pedagang, nenek dan nenek buyutku adalah seorang pedagang. Pelan tapi pasti usaha jualan ibu menanjak membuahkan hasil. Ibu bisa membelikan sebuah mobil keluarga agar ayah tak kehujanan lagi ke kantor dan agar kami dapat pergi bersilaturrahmi ke rumah saudara tanpa berdesak-desakkan lagi di atas sebuah motor super sederhana.

Keberhasilan yang dicapai ibu tak sebanding dengan keberhasilan tumbuh kembang kami anak-anaknya. Walaupun secara materi aku dan adik-adikku tak kekurangan sesuatu apapun dan segala keinginan kami terpenuhi apalagi jika keinginan tersebut berhubungan dengan pendidikan, ibu selalu cepat mengucurkan dananya. Tapi, secara emosi, kami labil. Contohnya aku yang selalu merasa ibu tak mencintaiku seperti ibu-ibu yang lain yang aku kenal. Niat ibu yang semula memilih berjualan demi fleksibilitas dalam mengurus rumah tangga dan mendidik kami ternyata tak sejalan dengan kenyataannya. Karena urusan dagangnya, ibu jadi jarang berada di rumah pada siang hari, tak jarang ibu pulang malam ketika kami akan beranjak ke tidur. Urusan rumah tangga pun ibu delegasikan kepada asisten rumah tangganya. Cengkrama dan canda tawa menjadi hal yang langka di keluarga kami. Tak heran perbedaan pandangan dan perdebatan terjadi di antara aku dan adik-adikku.

Rasa sepi dan emosi yang labil mengarahkanku pada pendalaman bagi pemahaman agamaku. Yang kemudian membawaku akan keputusan untuk menikah di ‘usia muda’. Yah, menikah setelah tamat SMA memang dipandang sebagai pernikahan dini bagi sebagian besar masyarakat sekarang. Perkuliahan aku selesaikan dengan baik dengan statusku yang sudah menikah dan ibu rumah tangga. Dengan menyandang ijazah sarjanaku di dukungan prestasi akademik yang memuaskan dan cukup membuktikan ke masyarakat bahwa menikah bukanlah hambatan untuk berprestasi, aku pun mendaftar ke sana kemari mencari pekerjaan seperti yang lazim dilakukan oleh mahasiswa yang baru tamat kuliah. Tiba-tiba, ibu melarangku untuk mengakhiri statusku yang kini tercatat di kartu kuning pencari kerja dari dinas tenaga kerja sebagai pengangguran intelektual. Aku pun terkejut dengan pernyataan ibu yang mengatakan bahwa langkah yang aku ambil kurang tepat, ibu menyayangkan jika cucu-cucunya besar bukan di tanganku apabila aku bekerja dan berkarier di luar rumah, dari wajah ibu mengisyaratkan bahwa ibu menyesal telah melewatkan masa kecil kami karena kesibukan ibu dalam membantu perekonomian keluarga. Sepertinya ibu tak mau jika cucu-cucunya bernasib sama dengan anak-anaknya.

Walau ibu tak berjiwa pujangga yang bisa merangkai kata nan indah kepada anak-anaknya, di balik sikapnya yang acuh ternyata ibu punya jiwa selembut sutera. Di balik kesibukkannya dan hampir tak pernah bertanya tentang perasaan kami ternyata ibu mencintaiku dan adik-adikku. Benar adanya bahwa tak ada ibu yang tak mencintai buah hatinya. Ibuku demikian, walau aku telat menyadarinya. Ternyata cinta ibu pada kami bukanlah cinta biasa, ibu mencintai kami dengan cara yang berbeda. Aku pun mengikuti arahan dan bimbingan dari ibu dengan suka cita, ku ikhlaskan diriku untuk berkarier di rumah tangga karena Allah, Tuhan Yang Maha Sempurna. Dan semua aku lakukan dari ibu, oleh ibu, dan untuk ibu. Semoga apa yang aku lakukan di rumah tanggaku menambah derajat kemuliaannya di hadapan Allah. Amin.



Become a Great Mother...dudududu

Terinspirasi dari film The Cheaper By Dozen..gue jadi pengen punya anak buanyak yang kebetulan sama dengan sabda Nabi besar kita Muhammad SAW. Di film itu dikisahkan orangtua yang mampu mengurus anak-anaknya yang berjumlah 12 orang tanpa ada bantuan orang lain ( baby sister atau pembantu-red ). Karena gue kagum sama cerita dan para pemainnya yang watak, film itu pun gue tonton berulang-ulang. Efek sampingnya tekad gue makin kuat ikut program KB ( Keluarga Besar-red ). Apalagi gue emang senang banget dengan suasana rumah yang penuh keramaian ( mungkin karena gue dah terbiasa punya adik banyak ya..). Dua tahun pernikahan, gue baru dikasih momongan. Masih seperti Mommy yang ada di film itu, Seyogyanya jadi seorang istri enak banget gak ribet..duduk manis mengurus anak dan rumah tangga, tinggal nunggu setoran dari suami hehehe, kalau pengen apa-apa tinggal minta suami aja ( minta doang, belinya entar hihihi..sorry say..just kidding ). Tapi ternyata ngurus 3 baby yang jarak umurnya berdekatan repotnya minta ampyuuu..un.

Boro-boro punya anak selusin bo' baru 3 aja gue keter. Gue butuh SOS so nyokap gue bolak-balik terbang Medan-Palangka Raya. Karena gue semaput, nyokap gue menjelma jadi super nanny. Kasihan sih bokap gue sering ditinggal sendiri karena nyokap gue sekap selama berminggu-minggu di rumah ( Maafkan anakmu yang imyuut ini ya Pa...hiks..hiks). Emang dasar gue yang dodol ya masa' film mau gue ikuti ck..ck..ck..Tapi Ibu-ibu tetangga yang gak tau passion gue bilang " Enak bo' capeknya sekalian entar kalau anak dah gede nyantai ". Batin gue sih "iya emang kalau gak keburu dapat baby satu lagi" hehehe ( Glek..!! Sadar dev..). Padahal mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi kerjaan seabrek pada ngantri, mungkin kalau ni badan mesin buatan manusia dah lama hang akibat dipaksa kerja yang overload gitu. Tapi dibalik kepontang-pantingan gue mengasuh anak-anak banyak kejadian-kejadian lucu yang gue alami sehari-hari yang cukup menghibur gue di sela-sela Schedule gue yang padat hihihi ( artis kalee !!).

Gara-gara mati lampu...

Seperti biasa di tengah bulan, petugas pencatat meteran listrik datang ke rumah untuk mencatat beban pemakaian listrik bulan ini. Biasanya kita sering gak tahu kapan waktu petugasnya datang. Kan petugasnya cuma mencatat, menempelkan secarik kertas bukti pemakaian, trus pergi ke tempat yang lain. Tapi kali ini kebetulan anak-anak gue lagi pada main di teras rumah. Melihat orang yang gak dikenal datang ke arah rumah gue, Azkiya n Icha nanya "Siapa itu Mi?" ya..gue jawab "Ooo..itu petugas dari PLN"...Ehh..tiba-tiba anak-anak gue pasang muka sinis ngeliat si Bapak petugas, dan bisik-bisik (tapi kedengaran jelas suara bisik-bisiknya). Gue yang berada agak jauh dari mereka aja bisa dengar.
" Wah..Bapak ini yang sering matikan lampu (listrik-red) rumah kita, Mbak!" kata Icha.
" Iya..Cha..Bapak ini orang jahat ya.." Jawab Azkiya.
Si Bapak juga mendengar bisik-bisiknya Azkiya n Icha, buktinya si Bapak senyum-senyum dan langsung pergi tanpa berkata apapun. Mungkin dalam hatinya "Sabar..sabar..orang sabar disayang Tuhan ya..". Gue yang ada disitu keki berat dan langsung minta maaf. Trus gue jelasi deh ke anak-anak kalau yang matikan listrik itu bukan Bapak itu tapi PLN karena kita harus gantian pake listriknya, makanya anak-anak harus hemat listrik supaya listrik rumah kita gak
sering mati-mati lagi (mirip yang iklannya Lidya Kandau itu, hehehe..).

Takut Banjir (2) ....

Selain takut hujan, mereka juga suka teriak - teriak kalau liat ada orang yang buang sampah sembarangan. Tapi, teriaknya bukan ke orang tersebut, misal : " Bang - Bang, sampahnya buang di tempatnya dong " Bukan, tapi teriak - teriaknya ke gue " Umi..Umi..lihat tuh ada orang yang buang sampah sembarangan " trus gue harus apa dong ?
Benar... anak gue maksain gue untuk mungut tuh sampah dan nyuruh gue untuk naruh ke tong sampah..Gubrak..kalau gue gak mau eh mereka nangis dan teriak " Umi..nanti bisa banjir " Plis deh masa' gue alih profesi sih jadi pemungut sampah ..mending kalau sampahnya bisa dijual hihihi..ini sampah bungkusan makanan..Duhh..kenapa orang - orang belum sadar juga untuk membuang sampah pada tempatnya padahal peringatan alam sudah terjadi dan pemerintah sudah menyediakan tong - tong sampah di jalan dan TPS yang sudah tersebar. Anak - anak gue aja semangat banget kalau gue suruh buang sampah di tong itu dan menggoyang - goyangkan tongnya layaknya ayunan hahaha. Kalau gue ikuti kemauan anak gue bisa - bisa seharian gue cuma ngutipin sampah doang, anak - anak gue justru gak keurusan kan. Ya gue bilang aja supaya kita mendo'akn orang - orang itu agar mereka sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan. Yang penting kita mulai dari diri kita sendiri..Siiip deh !

Takut Banjir (?)

Dampak dari udah bisanya Azkiya&Icha membaca di usia TK, mulut gue jadi keriting akibat banyak menjawab pertanyaan kritis mereka dan otak gue harus dibiasakan loading cepat untuk memilah-milih kata yang tepat untuk menjawab. Yang namanya emak-emak dengan kerja seabrek ( dan gak kelar-kelar ), gue kecolongan juga. Pas lagi libur sekolahnya, gak biasa-biasanya suasana di rumah gue adem ayem kayak pagi ini. Gue curiga, gue intip mereka..Oooh..lagi baca koran..baguss..untuk up date informasi..Gue lanjut kerja..trus otak gue baru connect..What's..koran ?? Berita apa gerang yang dibaca, yang gue tahu kan koran = berita politik, ekonomi, kriminal ?? Oh no anak-anak gue belum cukup umur. Cepat-cepat gue ke ruang tamu tempat mereka bermain dan bereksperimen dengan semua barang yang ada di rumah.
Belum sempat gue ambil tuh koran, Azkiya & Icha sudah bosan membacanya dan mereka mulai berdiskusi.
"Cha..kalau hujan gak berhenti-berhenti bisa banjir lho.."
"Iya.. Mbak.."
"Trus kalau banyak sampah berserakan juga bisa banjir lho.."
"Iya..Mbak..ngeri ya bisa tenggelam nanti"
"Iya..makanya Azkiya dan Icha gak boleh buang sampah sembarangan ya.." sambung gue.
"Iya Mi..kalau buang sampah di tempat sampah kan Mi??"
"Pinter.."
Gue lega, mereka hanya membaca tentang banjir yang lagi terjadi di Ibukota. Tapi, setelah kejadian itu, gue jadi stress banget dengan tingkah mereka terutama Azkiya..Bayangin deh setiap kali hujan terjadi Azkiya nangis ketakutan dan setiap 5 detik sekali nanya ke gue : "Mi..hujannya kapan berhenti..Azkiya takut banjir.." Gue sudah menenangkan mereka dan menyuruh mereka berdoa pada Allah agar banjir tidak terjadi. Belakangan ini kan memang sering terjadi hujan lebat dengan angin kencang dan petir yang menakutkan. Gue sendiri juga takut apalagi gue dengar-dengar banyak pohon tumbang dan rumah rusak karena hujan badai tersebut. Gue yang emang penakut dari sononya plus sikap panik gue yang over dosis pasti semakin horor dong dengan tingkah 2 putri gue yang menambah suasana makin mencekam. Belum lagi si bayi Mumtaz yang jadi rewel melihat tingkah kakak-kakaknya yang mewek gitu. Akhirnya suami gue turun tangan juga melihat keadaan istri dan anak-anaknya yang mulai mengkhawatirkan hehehe. Suami gue mulai ceramah dan menjelaskan ke anak-anak gue kalau hujan itu adalah Rahmat Allah yang diturunkan Allah karena Allah sayang sama kita. Coba kalau gak hujan-hujan ?? semua tanaman akan kekeringan dan mati.
"Oooo..gitu ya Bi..Rahmat Allah itu apa Bi? Kok sama kayak nama Abi?"
Ya..ya..pertanyaan itu menandakan mereka sudah gak mewek lagi.

Pindahan (Lagi) ......

Sebagai seorang yang berdedikasi tinggi ( ehem..ehem ), suami gue ikhlas mengemban tugas dan amanat dari perusahaannya. Dan gue sebagai istri yang disayang suami hihihi..selalu mengikuti suami gue yang hidup nomaden alias berpindah - pindah dari satu propinsi ke propinsi lain demi tugasnya. Walau gue gak hidup menetap dan gak bercocok tanam ( jadi inget zaman batu ) gue merasa enjoy banget bisa keliling Indonesia, so gue bisa langsung berinteraksi dengan beragam corak budaya, bahasa dan masyarakat setempat. Anak - anak gue juga gitu. Buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya kan..Bahkan anak - anak gue lebih mencintai kota tempat tinggalnya sekarang dibanding dengan kampung halamannya. Bukannya kacang lupa kulitnya, menurut gue ini karena masyarakat setempatnya yang dengan tangan terbuka menerima kami dengan baik sehingga membuat penduduk pendatang seperti anak - anak gue merasa nyaman dan betah, ya gak..( bener ya lirik lagunya Trio Kwek - Kwek, Sing : Indonesia negeri ku, orangnya lucu -lucu, Indonesia tercinta orangnya ramah - ramah, gemah ripah loh jinawi ). Seperti waktu itu, suami gue akan dipindahkan ke Banjarmasin, gue bilang ke anak - anak kalau kita akan pindah, eh..mereka ogah. Azkiya dan Icha bilang gak mau, Mumtaz bilang Oeek..maksudnya " Umi..Mumtaz mau mimik " ( Eh gak nyambung ya???). Gue tanya kenapa, mereka jawab " Azkiya dan Icha sudah lengket sama Palangka Raya " hihihi..lem kali ya lengket. Gue sama suami pun berpikir keras untuk membujuk mereka supaya mau pindah dengan senang hati kayak gue. Akhirnya mereka mau pindah dengan satu syarat. " Ya udah..kita mau pindah tapi kita harus bawa rumah yang ini ya Mi..". Hahaha anak - anak gue nyangkanya kalau kami ada hubungan saudara dengan keong kali ya..Demi anak, gue bela - belain deh angkat nih rumah..( gue bercanda ding !)..trus gue njelasin kalau kita manusia gak bisa mindahin rumah. Tapi kita akan punya rumah baru ( rumah kontrakan baru maksudnya ) di Banjarmasin.

Kapan pandai ??

Di suatu siang di hari libur, seperti biasanya, suamiku menyalurkan hobi dan bakatnya dengan memencet - mencet keyboard laptopnya, tentu saja dengan dahi sedikit berkerut. Kadang sambil membuka - buka buku IT yang baru dibelinya. Seperti biasa juga di siang hari libur, Azkiya dan Icha menyempatkan diri mereka untuk 'bermesra - mesraan' dengan Abinya. Usai mendengarkan celoteh lucu dan cerita - cerita mereka, suami ku pun pamit pada anak - anak untuk melanjutkan kerjaannya.
" Udah dulu ya..Sayang..Abi mau belajar sekarang.. Anak - anak tidur siang ya ?"
Biasanya mereka menjawa serempak iya Bi..Tapi belajarnya cepat ya biar bisa main sama Abi lagi. Namun kali ini Azkiya menyeletuk dengan lugu :
" Abi kok belajar trus ? Kapan pandainya ?"
Spontan Kami tertawa geli karenanya dan menjelaskan bahwa kita memang harus belajar sepanjang hidup kita.

Sexy Mother ?!?

Sejak melahirkan dan menyusui ketiga malaikat kecil gue, badan gue jadi melar banget. Yang tadinya gue ramping dengan bobot ideal 45 kg berubah jadi rampung. ( Iya gue rampung membuat tubuh gue kayak goni beras hihihi ). Tapi gue selalu merasa sexy dengan bobot 60 kg dan tinggi badan gak nyampe 160 cm ( Narsis banget kan !). Maka gue sering heran kok orang - orang sering menyangka gue hamil lagi yah..padahal perut gue kan gak sebuncit paman gembul. Kayak waktu di bandara dulu ( ceritanya dulu gue mau ke Yogya untuk nerusin kuliah gue yang tertunda ). Pas mau naik pesawat, tiba - tiba gue ditanya sama petugas bandara :
" Maaf Bu..Ibu lagi hamil ya ?" maksudnya kalau hamil mau disediakan korsi roda biar gue gak capek-capek jalan kaki menuju pesawat. Gue keki banget dan langsung menjawab " Enggak !" tapi gue positif feeling kok..Gue merasa petugas itu hanya kasihan ngeliat gue yang waktu itu lagi menggendong Icha yang masih berumur 2 tahun tapi dia bingung gimana cara menawarkan bantuan hahaha. Gue juga sering memposisikan diri gue sebagai emak - emak bertubuh sintal yang kalau angkat benda berat tulangnya bunyi kretek - kretek akibat patah sehingga gue sering minta tolong suami untuk mengangkat Aqua galon ke dispensernya. suami gue juga mengamini tubuh gue masih ideal. Sering gue tanya ke suami:
" Wah..Bi..timbangan umi udah 60 kg nih, dah gemuk banget ya.."
" Gak gemuk kok..masih bohay " ( ciee..suami gue emang cinta buta ke gue hehehe ).
Jawaban suami gue semakin meyakinkan gue kalau gue baik - baik saja ( gak overweight maksudnya ). Kalau gue ngumpul dengan sesama ibu - ibu muda di sekolah Azkiya dan Icha, mereka pasti ngebahas gimana caranya turuni berat badan, batin gue sih untung badan gue masih proposional jadi gak sibuk - sibuk cari solusi gitu. Ditambah lagi di rumah gue gak punya cermin besar ( dulu punya sih tapi gue kasih ke tetangga gue pas gue mau pindah - pindahan dari Palangka Raya ke Banjarmasin ). Mengingat hidup keluarga gue yang nomaden, Gue pikir daripada repot ngepak - ngepak in cermin dan belum tentu tuh cermin selamat di perjalanan mendingan gue ngaca pake spion motor aja hihihi praktis, hemat, cermat.. Alhasil gue cuma bisa ngeliat wajah gue yang imut - imut ini ( dudududu). Sampai pada suatu saat sebelum lebaran tiba, kami sekeluarga pergi ke departemen store. Kami emang berniat beli baju baru. Tiba - tiba pas gue masuk kamar pas, gue kaget bukan kepalang ngeliat badan gue yang gak beraturan gini ( lemak dimana - mana _ red ). Gue gak menyangka badan gue segemuk itu. Gue kayak ngeliat orang lain. Mau histeris entar disangka suami gue maling soalnya doi sibuk ngejar anak - anak gue yang lari - lari dan teriak - teriak kayak di rumah sendiri. Akhirnya Tapi syukur nikmat juga, baru mengetahui bentuk badan gue sekarang. Coba kalau dari dulu gue tahu, anak - anak gue bisa kurus kering akibat ASI gue sedikit karena emaknya sibuk diet. Percaya gak percaya setelah kejadian di departemen store itu, gue jadi kuat angkat galon aqua sendiri ke dispenser. Jadi gue gak kebingungan lagi kalau suami gue dinas ke luar kota. Hebat !

Bobo Siang....

Anak gue hiperaktif banget, kerjanya maiii..in terus. Disuruh tidur siang ogah. Mereka kayak kelebihan energi deh. Padahal kan kalau makan harus gue uber-uber dan harus ada acara tangis-tangisan akibat gue paksa nelen makanan ( Sebenarnya gue sedih sih liat mereka nangis..Maafin umi ya Nak ! ini demi tumbuh kembang kalian juga hiks..hiks ). Tapi kalau gak gue paksa, tangan gue yang tadinya lentik berubah jadi kuncup kaku, kering, mati rasa akibat terlalu lama menyuapi mereka yang suka mengulum-ngulum makanan tapi ogah nelennya ( gue emang jarang nyuapi anak pake sendok, itung-itung irit tenaga dan sabun cuci piring hihihi..pelit !). Apalagi Azkiya, wuih..kayaknya dia gak bisa gue ikuti lomba makan kerupuk di 17 Agustus - an deh, makannya lelet banget ngalah - ngalahin jalan gue kalau pake kain songket. Gara - gara makannya yang lelet ini, gue juga sering keki di buatnya. Kayak waktu kami diundang acara syukuran teman. Biasa kalau ada acara begini kan waktunya perbaikan gizi keluarga hahaha..gue bercanda ding. Anak - anak gue ajak semua. Begitu acara makan - makan dimulai, kami pun makan. Icha yang ratu camilan sukses makan semua makanan yang dihidangkan. Dia emang doyan banget sama kue - kue tapi begitu disodori nasi, dia langsung bisa kenyang tanpa makan tuh nasi. Ajaib kan ? hehe. Azkiya, emang dia gak terlalu doyan camilan tapi ngeliat adiknya lahap gitu, dia jadi selera tapi tak berdaya, untuk menghabiskan satu kue aja dia butuh waktu 15 menit - an, boro - boro mencicipi semua. Apalagi di acara gituan kan, berlaku hukum siapa cepat dia dapat. Setelah semua kue habis, para tamu pun pulang. Kami pun pamitan pulang. Pas mau salaman dengan yang empunya rumah, Azkiya malah nangis bombay dan nuntut gue harus nyediain kue-kue yang mirip dengan yang dimakan Icha tadi. Gue kasih pengertian eh dia malah tambah nyaring nangisnya. Orang - orang yang ada disitu pada ngeliati dan bertanya ada apa. Gue cuma bilang gak apa - apa. Gak mungkin kan gue bilang dia nangis karena minta dibontoti kue (Kalau ini sih maunya gue hihihi). Akhirnya dia diam juga karena urusan bujuk - membujuk gue serahi ke suami gue. Suami gue emang penyayang banget sama anak - anak, sangking penyayangnya anak-anak jadi takut sama dia hehehe..

Pasta Gigi Rasa Cabe ;D

Azkiya dan Icha, walaupun mereka masih berumur 5 dan 4 tahun, tapi gue sudah mengajarkan mereka mandiri. Agar mereka terbiasa mengerjakan semuanya sendiri sementara gue mengurus Adiknya. Termasuk mandi. Gue harus lapang dada melihat hasil mandi mereka dengan rambut yang gak begitu basah dan masih ada busa shamponya. Sabun yang baru gue keluarin dari bungkusnya pun berubah tipis kayak dah dipake berhari - hari padahal kalau gue cium badannya gak ada tuh wangi sabunnya ( gue mandiin lagi deh ). Udah gitu kalau mereka sudah hampir selesai mandi pasti teriak - teriak dari kamar mandi :
" Mi..Azkiya dan Icha sikat gigi gak ? "

Abis tuh gue tergopoh - gopoh untuk mengambil sikat plus pasta gigi mereka yang gue taruh di rak atas. Tapi kali ini pasta gigi mereka jatuh sehingga bolong - bolong akibat digigit tikus yang ngeKos gak bayar di rumah gue. Karena gue gak punya pasta gigi cadangan mereka, gue akhirnya memberi pasta gigi gue ke mereka setelah sebelumnya mewanti - wanti agar mereka gak menelan pasta gigi seperti yang biasa mereka lakukan dengan pasta gigi rasa strowberrynya. Proses menyikat gigi pun lebih cepat selesai soalnya mereka kepedasan hihihi..( jahat ya gue..tapi gimana lagi masa' sikat gigi tanpa odol sih, masih bau jigong donk ). Setelah menyikat gigi, Icha ngomong ke gue sambil kepedasan :
" hhhuha..hhhuha..Mi..pasta gigi umi terbuat dari cabe ya ?"
hihihi..pinter banget anak gue, yang pedas kan cabe bo'..tapi gue jelasin bahwa pasta gigi gue ada mentholnya makanya pedas.
" Icha gak suka cabe dan menthol, Mi.."
" Iya..iya.. Nak..nanti kita beli pasta gigi baru ya.."

Minta Tolong......

Sore itu aku baru bangun dari tidur siangku..tumben-tumbenan aku bisa tidur siang hari ini. Biasanya begitu mataku merem, Azkiya dan Icha (Mumtaz dah tidur) mendadak kebelet pipis atau minta camilan atau bisa juga minta diceritain buku cerita. Apalagi kedua anakku ini gak doyan banget tidur siang walaupun dengan berbagai bujukan gak bakalan mempan (mudah-mudahan kalau mereka dah jadi 'orang besar' juga anti suap ya..Amin) Tapi, siang ini mereka tertidur juga akibat kelelahan bermain. Tiba - tiba dari arah dapur terdengar suara yang cukup keras dan berbau nyengat..aku segera keluar kamar menuju dapur.. Astaghfirullah ku lihat dapurku pengap sekali. ternyata selang elpiji kompor gas kami bocor..aku panik, stes, bingung, nangis, ngences ( kalau yang ini enggak ding)..berbagai macam peristiwa tragis yang ada di berita tv akibat tabung gas meledak berseliweran di benakku. Tanpa ba bi bu dan tanpa jilbabku aku berlari sprint keluar rumahku setelah sebelumnya membangunkan Azkiya dan Icha serta menggendong Mumtaz. Di luar, aku langsung meminta tolong pada orang - orang yang aku temui. Orang pertama dan kedua yang aku mintai tolong menolak permintaanku dengan alasan mereka gak mengerti tentang gas elpiji. Jaman sekarang emang susah banget ya minta pertolongan orang lain tanpa imbalan. Aku ngerasa seperti ada dalam acara minta tolongnya RCTI.

Sudah 3 menit berlalu dan belum ada orang yang mau menolong ibu yang malang ini, padahal bunyi gas bocor sudah terdengar sampai keluar rumah. Berita dari mulut ke mulut pun tersebar tapi mereka bukannya malah mengerubungi ku seperti lazimnya kalau ada orang yang tertimpa musibah. Tapi mereka malah menjauh bahkan ada yang berlari ( lebai deh ) begitu mendengar ada gas bocor. Ku telepon suami yang masih di kantor tapi toh tetap aja suamiku gak bisa berbuat apa -apa dengan jarak yang begitu jauh. Aku malah sempat berangan - angan andai aja suami ku bisa seperti jinny oh jinny yang begitu mengedipkan mata langsung sampai ke tujuan.

Akhirnya pertolongan Allah datang, satu orang tetanggaku mengorbankan dirinya untuk masuk ke rumah kami yang pengap dengan gas untuk melepaskan selang gas dari tabungnya. Bunyi yang menyeramkan itu pun berhenti. Pintu belakang dan samping rumah dibuka lebar - lebar agar udara yang bau gas itu berganti denagn udara segar. Gak berapa lama pun suamiku pun datang, aku langsung memeluknya erat - erat dan menangis di pelukannya...( sinetron kalee...) Enggak lagi aku cuman bercerita panjang lebar aja ke suami. Selama 3 hari aku trauma deket-deket dapur..dikit-dikit mencium bau gas. Tapi demi gizi dan keuangan keluarga ku paksakan diriku untuk mulai menjamah dapur lagi. Soalnya boros banget sih kalau harus beli lauk dan sayur terus..Hemat Pangkal Kaya Buuuk..!!

Akhirnya Punya Blog Juga :D

Alhamdulillah..akhirnya aku bisa punya blog juga yang selama ini selalu tertunda akibat kesibukanku mengurus ke-3 malaikat kecilku..

Aku adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang gak punya persiapan apa - apa untuk menjadi istri ketika memutuskan untuk menikah dulu. Maklum, aku menikah di usia yang sangat belia kalau dipandang dari kacamata "orang - orang sekarang". Namun, aku beruntung memiliki seorang suami yang sangat baik yang senantiasa mengajariku makna kehidupan dunia & akhirat. Suamiku gak pernah membebaniku dengan pekerjaan - pekerjaan rumah tangga yang selayaknya dilakukan seorang istri, seperti : memasak, menyuci baju, dll. Menurutnya, pekerjaan - pekerjaan itu adalah hakku bukan kewajibanku. Sebagaimana hak, maka aku boleh mengambil hak - hak tersebut atau tidak. Dengan kebaikan hati suamiku jugalah, aku masih bisa terus mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi dan menyelesaikannya dengan baik.

Seiring dengan bertambahnya usia pernikahan kami, aku pun belajar memasak dan berbagai macam rutinitas pekerjaan rumah tangga yang seyogyanya dilakukan seorang istri. Dan, Alhamdulillah suamiku banyak membantu proses pembelajaranku. Hal yang paling aku syukuri dalam proses pembelajaranku adalah indra perasa suamiku sehingga dia selalu mengatakan bahwa masakanku adalah masakan terenak yang pernah dia cicipi, bahkan lebih enak dari masakan chef restoran..suit..suit...

Subhanallah..padahal menurutku untuk mengalahkan masakan mamaku aja aku belum bisa.Plok..plok..plok..salut banget sama suamiku.

Prestasi terbesarku diukir dengan kelahiran ketiga malaikat kecilku..Azkiya Fathul Mawaddah (5 tahun), Khalisha Hanan Fakhira (4 tahun), Ahmad Mumtazul Kautsar (20 bulan). Mereka adalah sumber inspirasiku yang mengisi kehidupanku dengan berbagai macam warna melalui tingkah dan "kenakalan" mereka. Mereka juga adalah guruku yang mengajariku tentang betapa hebatnya menjadi seorang Ibu dan menyadarkanku bahwa ternyata seorang Ibu juga bisa "berkarier" di rumah tangganya. Tiada henti - hentinya aku bersyukur pada Allah Yang Maha Kuasa. Dia telah memberiku keluarga yang harmonis dan anak - anak yang sehat, lucu, dan cerdas. "Karier" dalam rumah tanggaku terasa menanjak seiring dengan bertambahnya kepintaran - kepintaran mereka. Kegigihan Mumtaz belajar sesuatu hal baru mengajariku untuk terus berusaha tanpa putus asa dalam hidup. Besarnya rasa ingin tahu serta semangat belajar yang tinggi dari anak-anakku membuat aku harus belajar lebih giat lagi dan mencari informasi tentang metode pengajaran pendidikan. Aku berterima kasih banget kepada tim dari metoda Canthol Raudhah yang telah menciptakan metoda pengajaran membaca dan menerbitkan DVD & kartu bergambar sehingga membuat Azkiya dan Khalisha bisa membaca di usia 4 tahun. KH. As'ad Humam atas Iqro' cara cepat membaca Al Qur'an (semoga menjadi amal jariyah bagi beliau), seingatku dulu aku baru bisa membaca Qur'an sewaktu aku kelas 3 SD. Juga kepada mbak Septi Peni Wulandari atas jarimatikanya.

Alhamdulillah atas nikmat yang diberikan Allah kepada kami. Semoga kami selalu menjadi hamba-NYA yang bersyukur..Amiin.

Supermom Aza Dech... :D

Coba deh kalau kita nanya sama anak kecil : Cita - cita kamu apa ? pasti mereka bilang ingin jadi dokter, guru, pilot, astronot, bla..bla..bla..Pasi jarang deh mereka bilang jadi supermom. Bagi sebagian wanita dewasa juga gitu, langka banget yang bercita - cita berkarier di rumah tangganya ( bagi yang sudah menikah ) alias jadi supermom. Waktu di awal nikah, gue sih termasuk orang yang pengen jadi supermom ini, tapi setelah gue dapat secarik kertas yang mengizinkan gue pake gelar SE ( Sarjana Ekonomi - Red ) di belakang nama gue plus IP yang spektakuler ( ciee...) mengingat gue kuliah sambil nikah ( atau nikah sambil kuliah ya..), mulai datang deh bisikan - bisikan yang gak tahu darimana asalnya ( hhhhiiiyyy au ah ). Gue pun sibuk membujuk suami agar diizinkan ngelamar ke sana - sini. Gue belajar Tes Potensi akademik ( TPA ) dkk dengan semangat '45. Dua kali tes CPNS gue lakoni dengan mantap. Alhamdulillah gue lolos ( gak kejaring maksudnya hehehe ). Ternyata Allah sayang banget sama gue dan anak - anak gue. Setelah gue ngumpuli tekad dan semangat yang tadinya sempat berserakan akibat lolos tes :) gue pun berniat untuk ikut tes yang ke 3, tapi iseng gue tanya anak-anak
"Azkiya, Icha dan Mumtaz do'akan umi terus kan ?"
" Iya dong, Mi..kan anak sholihah."
" Doanya gimana yoo ?"
" Azkiya berdoa..Ya Allah, buatlah Umi selalu dekat Azkiya. Azkiya mau Umi kerja di rumah aja..karena Azkiya takut ditinggal sendiri di rumah."
" Icha juga doanya gitu, Mi " kata Icha yang emang suka ikutin kakaknya.
Ooo..so sweet..jadi terenyuh hati gue. Ternyata anak - anak gue gak suka lihat uminya wara - wiri tes sana - sini. Mulai saat itu akhirnya gue kembali bercita - cita jadi supermom lagi. Ijazah dan IP, gue jadikan modal untuk mendidik mereka. Mudah - mudahan menjadi amal jariyah bagi gue kelak. Amiin. Walau kadang masih ada yang bisikin ke gue, tunggu mereka gede ya baru lamar sana - sini??? tapi dengan mantap gue bilang ke dia ( Siapa ?? Whuuuaaa..) Supermom ajah deh!!!

Pengikut


ShoutMix chat widget
free counters